Jumat, 08 Januari 2010

Catatan Ringan di Pagi Hari .......... Hehehehehe


Notes ( 09 Januari 2010 ) : Terima Kasih buat Sahabat


Pekerjaan pertama ( dan sangat menyenangkan ) yang aku lakukan setiap pagi adalah membaca email, status-status sahabat di fb. Email dan status-status di fb dari sahabat-sahabat selalu menjadi prioritas pertama yang wajib dibaca terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas. Aku selalu berbunga-bunga, tertawa lebar, tak jarang terharu sampai berkaca-kaca, terus menangis tersedu-sedu ( kalo sudah sedih banget hiks hiks hiks ), membaca apa saja yang sahabat-sahabatku ceritakan. Begitu lekatnya celotehan sahabat-sahabatku melalui email dan facebook dalam kehidupanku.Banyak pelajaran dari kehidupan yang aku lalui setiap hari dari hal-hal kecil yang terkadang dianggap sepele. Dari celotehan sahabat-sahabatku aku belajar untuk dapat berempati bila mereka bersedih, bila sahabat-sahabatku marah-marah aku belajar untuk sabar, dari sahabar-sahabatku yang cerewet aku belajar untuk diam. Begitu banyak guru-guru yang dapat aku pelajari setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Kahlil Gibran, dengan indah menulis : “Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dan yang tidak toleran dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guruku ini”.
Aku belajar mendengarkan dari sahabatku yang cerewet, belajar bersikap fleksibel dari sahabatku yang kaku, belajar kejujuran dari yang pembohong, belajar kesetiaan dari mantan pacar yang berselingkuh ( xixixixi ), belajar sabar dan tegar dari sahabatku yang sakit.
Aku menemukan begitu banyak pelajaran berharga dalam hidupku dari guru-guruku, dari celotehan, email curahan hati, atau curhat lewat sms atau telpon, orang-orang yang aku temui setiap hari di kantor, dalam perjalanan menuju kantor dan banyak lagi. Semua itu membuatku telah belajar sesuatu dan membuat jiwaku untuk menjadi lebih bijak.
Jadikan setiap orang menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah dan setiap jam adalah jam pelajaran ~ Gobin Vashdev
Hidup memang harus dinikmati dan disyukuri setiap detiknya dan terima kasih buat sahabat-sahabatku.

Rabu, 06 Januari 2010

Di Rumah Gubernur pun Mati lampu ...... Hehehehe

Jaringan Memble, Listrik di Riau Padam Lagi


Sumber : ANT
PEKANBARU, KOMPAS.com - Kerusakan jaringan listrik mengakibatkan sejumlah daerah di Kota Pekanbaru, Riau, mengalami pemadaman listrik pada Rabu malam (6/1). Kondisi tersebut juga sempat mengganggu acara Gubernur Riau Rusli Zainal, yang sedang memaparkan keluhannya tentang kondisi kelistrikan Riau yang makin memprihatinkan."Pemadaman listrik akibat terjadi kerusakan jaringan di sistem interkoneksi Sumatra Bagian Tengah dan juga ada kerusakan pada gardu 20 kilovolt (Kv) di Pekanbaru," kata Direktur PLN Wilayah Riau dan Kepri, Robert A Aritonang. Ia menjelaskan, kerusakan pada jaringan interkoneksi disebabkan gangguan di PLTU Ombilin, Sumatra Barat, pada sekitar pukul 19.00 WIB sehingga daya berkurang sebesar 90 Megawatt (Mw). "PLTU Ombilin sempat keluar dari sistem," katanya. Selain itu, ia juga menjelaskan cuaca buruk berupa hujan deras dan angin kencang mengakibatkan kerusakan di salah satu trafo berdaya 20 Kv. Ia mengatakan PLN hingga kini masih terus berupaya mengatasi kerusakan tersebut, dan meminta warga untuk bersabar.Namun, ia belum bisa menjelaskan dampak dari kerusakan tersebut dan batas waktu berakhirnya pemadaman listrik di sejumlah daerah.Pemadaman listrik tersebut sempat mengganggu acara pertemuan membahas "Riau International Energy Expo" di rumah dinas Gubernur Riau Rusli Zainal di Jalan Diponegoro. Ironisnya, listrik sempat padam dua kali saat gubernur memberi sambutan di depan para undangan.Bahkan, Rusli Zainal harus turun tangan langsung untuk memasang lampu darurat karena pemadaman listrik berlangsung cukup lama.Di tengah gelap gulita tersebut, gubernur menyayangkan kondisi kelistrikan di Riau makin memprihatinkan. Sebabnya, kondisi tersebut telah mengganggu iklim investasi dan menghambat kemajuan daerah."Jarang-jarang di rumah Gubernur mati lampu seperti ini," kata Rusli Zainal sambil berkelakar.

Pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan
Btw ......... Dia betul-betul seorang yang sangat Perfect ......... Sudah kaya ... Gangteng .......... dan keturunan asli Arab ... Ada yang berminat ......? Silahkan Saja .... Hubungi yang bersangkutan .... hehehehe

Fantastik .......... Seorang Sheikh Yang Sangat kaya

Manchester City...... Betul2 Kaya Raya


MANCHESTER, KOMPAS.com - The Sun mengklaim, keluarga pemilik City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan memiliki kekayaaan dengan nilai total mencapai560 miliar poundsterling atau sekitar Rp 825 triliun. Dari uang itu, Mansour, berkenan menghibahkan 305 juta poundsterling atau hampir mencapai Rp 4,5 triliun untuk membersihkan beban utang City.Hal itu terungkap dalam laporan keuangan City, Selasa (5/1/2010). Itu merupakan pertama kalinya City mengungkapkan laporan keuangannya kepada publik, semenjak Mansour mengambil alih City pada Agustus 2008 silam. Sekadar catatan, menurut The Sun, Mansour membeli City dengan harga 210 juta poundsterling atau sekitar Rp 3,1 triliun. Itu belum termasuk kucuran anggaran transfer sebesar 200 juta poundsterling atau sekitar Rp 2,9 triliun.Kesediaan Mansour melunasi utang City, selain untuk membuktikan komitmen dan ambisi, juga merupakan bentuk apresiasi kepada prestasi manajemen klub meningkatkan penghasilan klub. Ketika diambil alih, City hanya membukukan pendapatan sebesar 82,3 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,2 triliun. Setelah diambil alih, nilai itu meningkat enam persen, menjadi 87 juta poundsterling atau mencapai hampir Rp 1,3 triliun.Meski begitu, City sendiri belum berada di titik impas. Menurut laporan itu, City masih menderita kerugian sebesar 92,6 juta poundsterling atau hampir Rp mencapai 1,4 triliun. Ini adalah kerugian terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. "Laporan keuangan merefleksikan berlangsung sebuah periode peruabahn yang cepat di klub ini. Ini semua berkat perencanaan panjang dan investasi dewan direksi dan pemilik untuk menciptakan bisnis yang kokoh untuk masa depan," ungkap Ketua Bidang Ekonomi City, Graham Wallace."Keputusan pemilik untuk melunasi utang sejalan dengan strategi finansial mereka dan ini merupakan berita fantastis bagi suporter Manchester City, bahwa klub berada dalam fondasi keuangan yang aman, yang memberikan acuan luar biasa untuk pembangunan di masa depan," lanjutnya.Sementara itu, dari kacamata kompetisi profesional, lunasnya utang City menunjukkan keseriusan mereka bersaing di pentas Eropa. Hal ini terkait dengan peraturan "Financial Fair Play" yang akan diberlakukan UEFA 2012 mendatang. Ketentuan itu mengatur, klub yang memiliki beban utang tak boleh mengikuti kompetisi Eropa.

Senin, 04 Januari 2010

Pembelajaran Bagi Kita semua......

Fivety ... Fivety yang Membawa Berkah ....


Saat nyantri di Pondok Pesantren Ar-Riyadh, Palembang, saya memiliki guru yang namanya sama dengan nama saya: Ahmad Al-Habsyi. Lengkapnya Habib Ahmad Al-Habsyi. Kami atau para santri, biasanya memanggil beliau dengan Abuya. Beliau sosok yang sangat dekat dengan kami. Dari sekian ratus santri yang ada, ada duapuluh santri yang dianggap oleh beliau sebagai santri andalan atau unggulan, termasuk saya.
Beliau dikenal alim, wara, zuhud, dan sangat memperhatikan santri-santrinya, termasuk dalam perkembangan belajar dan ibadahnya. Suatu ketika, sebelum wafat, beliau diuji dengan sebuah penyakit yang membuat kami merasa khawatir atas hal yang dialaminya itu. Beliau mengidap sakit lupa ingatan. Semua yang berkaitan dengan dirinya, pesantren, santri, dan termasuk namanya sendiri pun lupa.
Memang sudah menjadi bagian pengkhidmatan, setiap santri mendapatkan tugas untuk memijiti badannya secara bergiliran. Suatu waktu ketika memijiti beliau, saya bertanya, “Guru, apa sih rahasianya agar bisa sukses, berilmu dan berkah seperti guru?” Beliau menjawab, “Jika kamu ingin sukses dan hidup berkah, biasakanlah membaca Surat Al-Waqi`ah sebanyak 14 kali dalam sekali duduk dan memberikan rezeki yang didapat kepada ibumu”.
Yang disampaikan beliau ternyata terbukti dialami oleh saya. Dulu ketika masih tinggal di Palembang, saat bulan Ramadhan saya diundang untuk memberikan ceramah di sebuah masjid kampung. Selesai ceramah, saya diberi amplop oleh pengurus masjid itu. Amplop itu saya bawa ke rumah dan langsung bicara pada Ummi—panggilan saya pada ibu kandung, “Ummi, saya teringat pesan dari guru bahwa setiap kali mendapatkan rezeki harus berbagi dengan Ummi. Tadi Ahmad sudah mengisi ceramah dan mendapat amplop. Jadi, Ahmad mau berbagi dengan Ummi”.
“Ya,” kata Ummi.
“Sekarang kita bikin perjanjian, setiap Ahmad dapat rezeki akan dibagi dua dengan Ummi. Fivety-fivety ya Ummi,” ujar saya. Ummi pun mengiyakannya. Kemudian amplop itu dibuka dan ternyata terdapat uang sebesar Rp 100 ribu. Kemudian uang itu dibagi dua: Rp 50 ribu untuk Ummi dan Rp50 ribu untuk saya.
Menjelang waktu sore, saya mendapat undangan untuk ceramah di sebuah masjid. Saya pun lantas berceramah dan pulangnya mendapatkan amplop. Setelah dibuka dihadapan Ummi, ternyata isinya Rp 500 ribu. Sebagaimana yang telah disepakati bersama, Ummi dan saya masing-masing dapat Rp 250 ribu. Beberapa menit sesudah itu saya ditelepon sebuah organisasi dokter yang meminta saya menjadi imam shalat tarawih dan mengisi tausiyah. Pada esok harinya saya menunaikan apa yang diminta si pengundang. Dikarenakan hujan lebat dan jamaah tertarik dengan materi yang saya bahas, mereka meminta untuk terus melanjutkan hingga hujan reda. Selain hujan, aliran listrik pun mati. Meski dengan hanya cahaya lilin, saya tetap melanjutkan tausiyah dan jamaah pun terus menyimak. Setelah hujan reda, saya langsung pulang dan panitia member saya sebuah amplop. Saya cepat-cepat pulang ke rumah untuk bertemu Ummi dan membagi dua amplop yang saya terima itu.
Setibanya di rumah, saya lihat Ummi sudah tidur. Dalam hati saya begumam, ‘kalau membangunkan Ummi khawatir menggangu istirahat. Tapi, kalau tidak dibangunkan, saya tidak menunaikan janji. Ah, saya bangunkan saja’. Setelah dibangunkan, saya bilang pada Ummi bahwa malam ini dapat amplop. Ummi pun terlihat gembira dengan senyumnya yang khas ketika saya buka amplop. Subhanallah, amplop itu kosong. Tak ada sepeser pun uang. Saya kecewa. Tapi Ummi hanya tersenyum sambil berkata, “Ahmad, sudah tak apa. Jangan kecewa. Sudah kita bagi dua saja ini amplopnya”. Amplop kosong itu disobek bagi dua. Saya dan Ummi dapat potongan amplop. Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya dalam hati menggerutu pada panitia yang mengundang saya.
Esoknya, setelah subuh saya dapat telepon dari panitia yang mengundang saya bahwa ia mengaku salah ambil karena gelap. Ia pun datang pada saya dan meminta maaf. Ia menyerahkan amplop yang isinya Rp.1.250.000,-. Ia mengaku tidak menyentuhnya sepeser pun. Untuk membuktikan kebenaannya, ia berani meminta saya untuk mengecek kebenaran isi amplop pada panitia lainnya. Ia kemudian menelepon ketua panitia dan membenarkan jumlah nomimal amplop tersebut. Ia bilang pada saya bahwa dirinya semalam tidak bisa tidur dan terus dibayangi rasa salah. Sebagai penebus atas kesalahan dan kelalaiannya itu, ia menambahkan satu kali lipat isi amplop itu pada saya. Jadi, yang saya terima waktu sebesar Rp.2.500.000,-. Saya langsung pulang dan membagi dua dengan Ummi. “Fivety-fivety,” kata Ummi setelah saya beritahukan perihal kekeliruan panitia.
Subhanallah, Allah benar-benar Mahakaya dan Mahapengasih. Memberi satu dibalas sepuluh. Ini fakta nyata yang saya alami. Bahkan, dalam Al-Quran, balasan yang diberikan Allah bagi mereka yang berderma tidak hanya sepuluh, tapi hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Taala berfirman dalam Surat Al-An`am [6] ayat 160, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya”; dan dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 261, “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”.
Sungguh luar biasa kemurahan Allah yang diberikan pada makhluk-Nya yang mau berbagi dan peduli pada sesamanya, terutama kaum dh`uafa dan kerabat yang kemampuan finansialnya terbatas. Memang yang utama dalam berbagi rezeki adalah dengan orang-orang yang tedekat dengan kita. Yakni keluarga terdekat dalam satu atap (rumah) dan saudara-saudara yang masih ada garis kekeluargaan dengan kita. Jika dalam keluarga kita sudah tidak ada lagi orang yang perlu disantuni dengan rezeki yang kita miliki, barulah melangkah ke saudara se-iman atau Muslim lainnya.
Setelah itu, hal yang patut diingat adalah senantiasa ridha, ikhlas, dan yakin bahwa yang kita berikan pada orang lain akan dibalas Allah Taala dengan berlipat-lipat. Namun dalam menantikan pembalasan atau pengganti dari Allah itu kita harus sabar dan selalu berprasangka baik. Inilah hal yang harusnya diyakini dengan sepenuh hati bahwa memberi, berbagi, dan berbakti pada orangtua, khususnya ibu, mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka dan keberkahan hidup.
Ustadz AHMAD AL-HABSYI, adalah mubaligh kelahiran Palembang, 17 Mei 1980 dari pasangan Ustadz Abu Bakar Al-Habsyi dan Ibu Syarifah Mardiah Shahab. Suami dari Putri Aisyah Aminah ini dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Fachri. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Azhariyah Palembang, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum di Pondok Pesantren Ar-Riyadh Palembang, Universitas MDP dan Universitas PGRI Palembang. Banyak mengisi ceramah di beberapa stasiun televisi dan beberap instansi dan majelis ta`lim.(Naskah ini ditulis oleh AHMAD SAHIDIN dari wawancara dengan Ustadz Ahmad Al-Habsyi, pada Kamis, 23 Oktober 2008, di rumahnya, Jakarta pusat)

Jumat, 01 Januari 2010

Penceraaaaahhhaaaaaannnnnn


Mengawali Tahun Baru ala Sufi


Seorang sufi tidak dapat dilepaskan dari “pendakian” menuju hakikat atau yang sering disebut dengan maqamat (stasion spiritual). Maqam adalah “tangga-tangga” yang harus dilalui sang salik (sufi) dalam rangka menggapai hakikat tertinggi yang diidamkannya. Para sufi menyebutkan istilah yang berbeda untuk hakikat tertinggi tersebut. Ada yang menyebutnya dengan fana wa baqa, hulul, ittihad, mahabbah, ma’rifah, mukasyafah dan lain sebagainya. Perbedaan ini terjadi karena berbedanya perasaan yang mereka alami ketika mencapai wujud akhir yang dimaksud.
Meskipun para sufi berbeda dalam capaian akhir yang mereka inginkan, namun dalam memuli langkah awal mereka nyaris sama. Langkah awal yang selalu digunakan oleh sufi dalam memulai pendakian itu adalah taubat. Taubat berarti sebuah pengakuan akan kelemahan, kekurangan, kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Al-Ghazali meberikan tidak “syarat” bagi taubat yang sempurna, mengakui kesalahan, bertekat tidak melakukannya lagi di masa depan, dan mengisi kesalahan dengan perbuatn yang lebih baik. Dengan tiga “syarat” ini maka seorang salik telah dapat memulai perjalanannya menuju hakikat tertinggi yang diidamkan.
Dalam konteks kehidupan kita saat ini, wujud akhir adalah cita-cita besar atau keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu sebagai yang terbaik dalam kehidupan. Cita-cita tertinggi ini menjadi sebuah tekat yang selalu terbayang dan dirindukan. Bahkan ia menjadi pewarna dalam setiap aktifitas kehidupan manusia, menjadi penyemangat, motivasi dan pendorong untuk selalu bersemangat dan terus berusaha mendapatkannya. Sehingga sering dikatakan, hidup tanpa cita-cita adalah hidup tanpa tujuan. Tanpa tujuan yang jelas maka sebuah perjalanan tidak akan pernah sampai ke mana-mana.
Pun demikian jangan lupakan cita-cita spiritual yang menjadi dasar bagi semua agama, yakni pengabdian kepada Tuhan dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam praktiknya, pengabdian ini dimaknai berbeda oleh setiap agama. Namun mereka semua meyakini bahwa berbuat baik kepada sesama manusia dan alam semesta merupakan sebuah perilaku yang dicintai Tuhan, dan sebaliknya, berbuat jahat kepada sesama manusia dan alam semesta adalah perilaku yang dibenci oleh Tuhan dan Ia melarangnya. Oleh sebab itu seorang yang berbuat baik akan menjadi dekat dengan Tuhan, dan seorang yang berbuat jahat akan semakin jauh dari-Nya.
Meneladani para sufi dalam memulai tahun baru adalah dengan mengakui berbagai kelemahan dan kesalahan di masa lalu. Pengakuan ini akan menjadi ruang yang akan diisi untuk mendapatkan kesuksesan di masa yang akan datang. Isilah ruang itu dengan kabaikan dan usaha terus menerus sehingga apa yang diharapkan dapat dicapai. Ketika anda menginginkan sesuatu dan berusaha mendapatkannya maka Tuhan dan alam semesta akan bahu-membahu membantumu mendapatkannya. InsyaAllah.

Penceraaaaahhhaaaaannnnnn .........


Mengawali Tahun Baru al Sufi


Seorang sufi tidak dapat dilepaskan dari “pendakian” menuju hakikat atau yang sering disebut dengan maqamat (stasion spiritual). Maqam adalah “tangga-tangga” yang harus dilalui sang salik (sufi) dalam rangka menggapai hakikat tertinggi yang diidamkannya. Para sufi menyebutkan istilah yang berbeda untuk hakikat tertinggi tersebut. Ada yang menyebutnya dengan fana wa baqa, hulul, ittihad, mahabbah, ma’rifah, mukasyafah dan lain sebagainya. Perbedaan ini terjadi karena berbedanya perasaan yang mereka alami ketika mencapai wujud akhir yang dimaksud.
Meskipun para sufi berbeda dalam capaian akhir yang mereka inginkan, namun dalam memuli langkah awal mereka nyaris sama. Langkah awal yang selalu digunakan oleh sufi dalam memulai pendakian itu adalah taubat. Taubat berarti sebuah pengakuan akan kelemahan, kekurangan, kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Al-Ghazali meberikan tiga “syarat” bagi taubat yang sempurna, mengakui kesalahan, bertekat tidak melakukannya lagi di masa depan, dan mengisi kesalahan dengan perbuatn yang lebih baik. Dengan tiga “syarat” ini maka seorang salik telah dapat memulai perjalanannya menuju hakikat tertinggi yang diidamkan.
Dalam konteks kehidupan kita saat ini, wujud akhir adalah cita-cita besar atau keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu sebagai yang terbaik dalam kehidupan. Cita-cita tertinggi ini menjadi sebuah tekat yang selalu terbayang dan dirindukan. Bahkan ia menjadi pewarna dalam setiap aktifitas kehidupan manusia, menjadi penyemangat, motivasi dan pendorong untuk selalu bersemangat dan terus berusaha mendapatkannya. Sehingga sering dikatakan, hidup tanpa cita-cita adalah hidup tanpa tujuan. Tanpa tujuan yang jelas maka sebuah perjalanan tidak akan pernah sampai ke mana-mana.
Pun demikian jangan lupakan cita-cita spiritual yang menjadi dasar bagi semua agama, yakni pengabdian kepada Tuhan dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam praktiknya, pengabdian ini dimaknai berbeda oleh setiap agama. Namun mereka semua meyakini bahwa berbuat baik kepada sesama manusia dan alam semesta merupakan sebuah perilaku yang dicintai Tuhan, dan sebaliknya, berbuat jahat kepada sesama manusia dan alam semesta adalah perilaku yang dibenci oleh Tuhan dan Ia melarangnya. Oleh sebab itu seorang yang berbuat baik akan menjadi dekat dengan Tuhan, dan seorang yang berbuat jahat akan semakin jauh dari-Nya.
Meneladani para sufi dalam memulai tahun baru adalah dengan mengakui berbagai kelemahan dan kesalahan di masa lalu. Pengakuan ini akan menjadi ruang yang akan diisi untuk mendapatkan kesuksesan di masa yang akan datang. Isilah ruang itu dengan kabaikan dan usaha terus menerus sehingga apa yang diharapkan dapat dicapai. Ketika anda menginginkan sesuatu dan berusaha mendapatkannya maka Tuhan dan alam semesta akan bahu-membahu membantumu mendapatkannya. InsyaAllah.