Poligami Nabi Muhammad saw
Oleh vino warsono
Pernah suatu kali saya mempostingkan sebuah tulisan mengenai “Berita Kebenaran Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an dan Al-Kitab”. infonya dapat diklik di sini
Dan di salah satu kolom komentar ada Mas Riza Hilmi yang mempertanyakan beberapa hal tentang apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beberapa pertanyaan tersebut seperti ini :
1. Kenapa Nabi Muhammad Istrinya banyak ?2. Kenapa Nabi menikahi gadis yang belum cukup umur?3. Apakah Nabi seorang pedofil?
Dengan segala keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, saya harus dapat menjelaskan beberapa hal yang dipertanyakan Mas Riza Hilmi tersebut. Jawaban ini penting, karena saya pikir untuk menghindari persepsi yang keliru mengenai Nabi Muhammad SAW. Terutama yang hadirnya dari pemikiran orang muslim sendiri khususnya dan non muslim pada umumnya.
Nabi Muhammad SAW yang begitu mulia dan agungnya, wajib kita jaga kehormatannya, apalagi apabila kita sendiri sebagai orang yang mengaku ummatnya. Jawaban saya atas beberapa pertanyaan tersebut seperti di bawah ini :
1. Kenapa Nabi Muhammad Istrinya banyak ?…Karena untuk meluaskan jaringan dakwah islam (info lengkap baca Sirah Nabawiah) dan untuk membantu para janda yang sudah tua dan miskin, seperti kita ketahui istri Nabi Muhammad kebanyakan adalah janda kecuali Siti ‘Aisyah.
2. Kenapa Nabi menikahi gadis yang belum cukup umur?…hubungan Nabi dengan Abu Bakar demikian dekat, dan untuk merpererat ukhuwah islamiyah Abu Bakar menikahkan ‘Aisyah dengan Nabi. Dan dalam islam gadis yang sudah baligh, berapapun umurnya boleh dinikahi dan Nabi Muhammad ketika menggauli ‘Aisyah sudah baligh (pernah mens) meski baru berumur 9 tahun, kalau mas Riza rujukannya adalah UUD perkawinan tahun 1974, maka islam tidak pernah mengenal UUD perkawinan tersebut yang hanya di buat DPR Indonesia “yang korup dan jauh dari Islam yang Kaffah”, kalau kita menggunakan UUD tersebut hanya karena kita warga negara Indonesia.
3. Apakah Nabi seorang pedofil?…Silahkan Mas Riza baca kembali tarikh islam, baik yang ditulis oleh sejarahwan islam maupun non muslim, jika tulisannya obyektif maka tidak ada sedikitpun indikasi Nabi seorang pedofil, pedofil adalah istilah pencabulan terhadap anak-anak di bawah umur (laki-laki atau perempuan) dan Nabi tidak pernah melakukan pencabulan terhadap siapapun termasuk ‘Aisyah istrinya.
Mudah-mudahan ini sedikit menjawab pertanyaan Mas Riza, kalau belum puas silahkan cari referensi lain (sangat banyak referensi tentang Nabi Muhammad)
Semoga Allah SWT menghapus keraguan hati kita tentang kebenaran Islam serta memberikan petunjuk dan ketetapan yang baik kepada kita semua, Amin.
Selasa, 13 Oktober 2009
Senin, 12 Oktober 2009
Kiamat Menurut Al-qur’an dan Hadist
Begitu banyak ramalan-ramalan tentang Hari Kiamat yang ditulis dalam berbagai buku. Percayakah kita ?
Lalu bagaimana Islam memandang Kiamat?
Percaya kepada hari kiamat adalah salah satu rukun iman yang ke enam.
Ilmu kita tidak akan pernah sampai untuk meramalkan kapan kepastian terjadinya Kiamat, karena hal itu adalah menjadi rahasia Allah SWT.
“Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah” (Q.S an-Najm : 57-58)
Mereka menanyakan kepadamu tentang hari akhir : “Kapankah terjadinya ?”. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat bagi yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Tuhan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS AL-A’raaf :187)
Kamis, 08 Oktober 2009
PELAJARAN BAGI KITA SEMUA .......... SEMOGA BERMANFAAT ...
Nasihat Imam Ghozali
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”.
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “Masa Lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”.Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Sholat”. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.
Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “Lidah Manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Minggu, 04 Oktober 2009
Inna Lillahi Wa Inna ilahi Roojiuunnn
Mantan Rektor UBH Meninggal Saat Gempa
Minggu, 4 Oktober 2009 16:22 WIB
PADANG, KOMPAS.com — Mantan Rektor Universitas Bung Hatta Padang (UBH), Prof Dr Alfian Lain SE MA (70), meninggal saat gempa melanda Sumatera Barat (Sumbar). "Beliau mungkin shock dengan peristiwa gempa itu," kata Yulteknil, salah seorang kerabat Alfian, di Padang, Minggu (4/10).Ia mengungkapkan, pada saat gempa, almarhum sedang berada di rumahnya, di kawasan Sawahan Padang. Sebelum peristiwa gempa, almarhum sudah lama sakit. "Beliau sakit gula dan jantung," kata Yulteknil yang juga Ketua DPRD Sumbar itu. Alfian Lains lahir pada 26 Mei 1939. Sebelum menjadi rektor UBH, Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas itu pernah menjabat sebagai Koordinator Kopertis Wilayah X, dan Dekan Fakultas Ekonomi Unand. Data Satkorlak mencatat gempa yang melanda Sumatera Barat itu hingga Minggu menyebabkan 603 orang korban tewas. Ratusan warga Padang dan Padang Pariaman hingga Minggu masih terperangkap di bawah puing-puing reruntuhan bangunan dan longsoran. Korban terbanyak ditemukan di Kota Padang mencapai 239 orang, sedangkan di Padang Pariaman ditemukan sebanyak 237 warga.
Minggu, 4 Oktober 2009 16:22 WIB
PADANG, KOMPAS.com — Mantan Rektor Universitas Bung Hatta Padang (UBH), Prof Dr Alfian Lain SE MA (70), meninggal saat gempa melanda Sumatera Barat (Sumbar). "Beliau mungkin shock dengan peristiwa gempa itu," kata Yulteknil, salah seorang kerabat Alfian, di Padang, Minggu (4/10).Ia mengungkapkan, pada saat gempa, almarhum sedang berada di rumahnya, di kawasan Sawahan Padang. Sebelum peristiwa gempa, almarhum sudah lama sakit. "Beliau sakit gula dan jantung," kata Yulteknil yang juga Ketua DPRD Sumbar itu. Alfian Lains lahir pada 26 Mei 1939. Sebelum menjadi rektor UBH, Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas itu pernah menjabat sebagai Koordinator Kopertis Wilayah X, dan Dekan Fakultas Ekonomi Unand. Data Satkorlak mencatat gempa yang melanda Sumatera Barat itu hingga Minggu menyebabkan 603 orang korban tewas. Ratusan warga Padang dan Padang Pariaman hingga Minggu masih terperangkap di bawah puing-puing reruntuhan bangunan dan longsoran. Korban terbanyak ditemukan di Kota Padang mencapai 239 orang, sedangkan di Padang Pariaman ditemukan sebanyak 237 warga.
Benarkah .........? Tapi Bagaimana .... Dengan Jepang dan RRC
Mengapa Gempa Terjadi di Daerah Muslim?
Oleh nurtjahjadi
Mengapa gempa dan musibah2 sebagian besar menimpa daerah yang banyak penduduk muslimnya ? Apakah Allah SWT sudah tidak suka kepada orang Islam? Apakah maksiat hanya ada di Padang, Aceh, Sidoarjo, Bengkulu, Yogya ? Di tempat lain apa tidak ada maksiat ? Apanya yang salah ? Islamnya yang salah atau pemeluknya yang salah ? Begitulah pertanyaan2 yang muncul, wajar saja, namanya juga manusia, pastilah penasaran, kenapa begitu, kenapa begini…
Sebetulnya musibah2 itu ada juga di daerah yang non muslim. Just about the same lah… Amerika juga sering terkena badai, selandia Baru juga barusan terkena musibah. Tapi memang Indonesia kayaknya lebih banyak, kenapa ? Nggak usah berburuk sangka, kepada Tuhan. Setiap musibah itu pastilah ada hikmahnya. Kadang apa yang kita benci itu ternyata baik di sisi Tuhan. Dan, apa yang kita sayang itu ternyata buruk di sisi Tuhan.
Masih ingat kisah Nabi Yunus as ‘kan ? Yunus as lari dari umatnya yang bandel. Lari dari dakwah. Ia ikut menumpang kapal yang sebetulnya sudah over load. Pada awalnya laut itu tenang. tetapi di tengah laut, tiba2 kapal yang ditumpanginya oleng dimainkan ombak. Kapten kapal terpaksa mengundi siapa yang harus dilemparkan ke laut. Setelah diundi, ternyata keluar Nama Yunus as. Karena kasihan kepada Yunus as. Kapten kapal itu pun mengundi lagi, eh keluar lagi nama Nabi Yunus as. Diundi lagi untuk yang ketiga kalinya, Nabi Yunus as lagi yang keluar.
Akhirnya secara sukarela Yunus as menceburkan dirinya ke laut. Laut pun menjadi tenang kembali. Dan kapal berlayar lagi. Sementara Yunus as dimakan oleh ikan paus. Yunus sadar akan kelakuannya yang meninggalkan kaumnya yang sedang sesat menyembah berhala. Akhirnya dia berdoa/ berdzikir kepada Allah SWT. Kalau saja dia tidak berdzikir, maka ia akan berada di dalamikan paus itu smpai hari kiamat.
Laa ilaha illa anta Subhanaka inni kuntu minadz dzolimin…. Tidak ada Tuhan selain engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang yang dzolim.
Maka Yunus as pun dimuntahkan oleh ikan paus itu di daerah tempat kaumnya yang sudah ditinggalkan itu. kemudian ia berdakwah sehingga kaumnya menjadi orang2 yang beriman dan bertakwa. Akibat dari ketaqwaan kaumnya itu, maka Allah limpahkan rezeki dengan kehiduoan yang baik kepada Nabi Yunus dan kaumnya itu hingga masa yang telah ditentukan.
Melihat kejadian itu, pada waktu kejadian itu, mungkin penumpang lain bertanya2, kenapa Yunus as yang terkenal baik itu yang dilemparkan ke laut. Ah… jangan2 Yunus itu orang yang sok suci saja, sehingga perlu dikasih pelajaran oleh Allah SWT. Ternyata Allah SWT mempunyai maksud lain. Kejadian dimakan ipan paus itu justru untuk memuliakan Nabi Yunus as. Sampai hari kiamat, nama Nabi Yunus ini akan dikenang orang, karena ia ada di dalam Al Quran, Di surat Yunus, surat Al Anbiya, dan Surat Ash Shaffaat.
Mengapa yang dilempar ke laut Yunus as, Mengapa bukan orang lain ? Apakah Yunus as adalah orang yang paling berdosa ?
Pertanyaan2 seperti itu juga muncul saat musibah menimpa Aceh, Padang, Yogya DLL. Mungkin Tuhan punya maksud dan rencana lain yang kita tidak tahu, sebagaimana Tuhan telah buat rencana untuk Yunus as. Doa Nabi Yunus as itu sangat baik dibaca oleh setiap kita yang setiap hari juga tidak luput dari dosa dan kesalahan. Supaya Allah SWT tetap sayang kepada kita, maka minta ampunlah atas dosa2 yang pernah kita perbuat.
Umat Islam akhir2 ini juga tidak terlepas dari musibah2 yang datang silih berganti. Kiranya doa nabi yunus as itu sangat baik kita amalkan setiap hari. Orang2 Islam yang tidak mau berdakwah akan mengalami seperti halnya Nabi Yunus as yang tidak mau berdakwah kepada umatnya.
Kita sudah tahu bahwa tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw. Maka tugas dakwah itu terletak dipundak orang Islam. Jika orang Islam tidak mau dakwah, maka yang akan dakwah adalah umat agama lain atau antek2 Dajjal. Jangan salahkan agama lain yang aktif dakwah dengan menyebarkan kasih sayang. Karena Umat Islam tidak mau dakwah, maka tugas dakwah itu diambil alih oleh umat lain. Padahal Umat Islam sendiri sering mengklaim bahwa Islam agama yang terbaik, tetapi umat Islam tidak mau berdakwah. Kalau ada yang berdakwah, bukannya dibantu malah diusir, diejek, dikatai jorok, kotor ini , itu dll., kalau sudah ada gempa dan musibah lain, sebetulnya Tuhan sedang menegur umat Islam sama ketika Tuhan menegur Nabi Yunus.
Nabi Yunus as lari dari dakwah, maka ia mengakui bahwa ia zalim. Umat Islam yang tidak mau berdakwah berarti juga zalim. Yang menghalang2i dakwah berarti yang paling zalim…
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita….
Oleh nurtjahjadi
Mengapa gempa dan musibah2 sebagian besar menimpa daerah yang banyak penduduk muslimnya ? Apakah Allah SWT sudah tidak suka kepada orang Islam? Apakah maksiat hanya ada di Padang, Aceh, Sidoarjo, Bengkulu, Yogya ? Di tempat lain apa tidak ada maksiat ? Apanya yang salah ? Islamnya yang salah atau pemeluknya yang salah ? Begitulah pertanyaan2 yang muncul, wajar saja, namanya juga manusia, pastilah penasaran, kenapa begitu, kenapa begini…
Sebetulnya musibah2 itu ada juga di daerah yang non muslim. Just about the same lah… Amerika juga sering terkena badai, selandia Baru juga barusan terkena musibah. Tapi memang Indonesia kayaknya lebih banyak, kenapa ? Nggak usah berburuk sangka, kepada Tuhan. Setiap musibah itu pastilah ada hikmahnya. Kadang apa yang kita benci itu ternyata baik di sisi Tuhan. Dan, apa yang kita sayang itu ternyata buruk di sisi Tuhan.
Masih ingat kisah Nabi Yunus as ‘kan ? Yunus as lari dari umatnya yang bandel. Lari dari dakwah. Ia ikut menumpang kapal yang sebetulnya sudah over load. Pada awalnya laut itu tenang. tetapi di tengah laut, tiba2 kapal yang ditumpanginya oleng dimainkan ombak. Kapten kapal terpaksa mengundi siapa yang harus dilemparkan ke laut. Setelah diundi, ternyata keluar Nama Yunus as. Karena kasihan kepada Yunus as. Kapten kapal itu pun mengundi lagi, eh keluar lagi nama Nabi Yunus as. Diundi lagi untuk yang ketiga kalinya, Nabi Yunus as lagi yang keluar.
Akhirnya secara sukarela Yunus as menceburkan dirinya ke laut. Laut pun menjadi tenang kembali. Dan kapal berlayar lagi. Sementara Yunus as dimakan oleh ikan paus. Yunus sadar akan kelakuannya yang meninggalkan kaumnya yang sedang sesat menyembah berhala. Akhirnya dia berdoa/ berdzikir kepada Allah SWT. Kalau saja dia tidak berdzikir, maka ia akan berada di dalamikan paus itu smpai hari kiamat.
Laa ilaha illa anta Subhanaka inni kuntu minadz dzolimin…. Tidak ada Tuhan selain engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang yang dzolim.
Maka Yunus as pun dimuntahkan oleh ikan paus itu di daerah tempat kaumnya yang sudah ditinggalkan itu. kemudian ia berdakwah sehingga kaumnya menjadi orang2 yang beriman dan bertakwa. Akibat dari ketaqwaan kaumnya itu, maka Allah limpahkan rezeki dengan kehiduoan yang baik kepada Nabi Yunus dan kaumnya itu hingga masa yang telah ditentukan.
Melihat kejadian itu, pada waktu kejadian itu, mungkin penumpang lain bertanya2, kenapa Yunus as yang terkenal baik itu yang dilemparkan ke laut. Ah… jangan2 Yunus itu orang yang sok suci saja, sehingga perlu dikasih pelajaran oleh Allah SWT. Ternyata Allah SWT mempunyai maksud lain. Kejadian dimakan ipan paus itu justru untuk memuliakan Nabi Yunus as. Sampai hari kiamat, nama Nabi Yunus ini akan dikenang orang, karena ia ada di dalam Al Quran, Di surat Yunus, surat Al Anbiya, dan Surat Ash Shaffaat.
Mengapa yang dilempar ke laut Yunus as, Mengapa bukan orang lain ? Apakah Yunus as adalah orang yang paling berdosa ?
Pertanyaan2 seperti itu juga muncul saat musibah menimpa Aceh, Padang, Yogya DLL. Mungkin Tuhan punya maksud dan rencana lain yang kita tidak tahu, sebagaimana Tuhan telah buat rencana untuk Yunus as. Doa Nabi Yunus as itu sangat baik dibaca oleh setiap kita yang setiap hari juga tidak luput dari dosa dan kesalahan. Supaya Allah SWT tetap sayang kepada kita, maka minta ampunlah atas dosa2 yang pernah kita perbuat.
Umat Islam akhir2 ini juga tidak terlepas dari musibah2 yang datang silih berganti. Kiranya doa nabi yunus as itu sangat baik kita amalkan setiap hari. Orang2 Islam yang tidak mau berdakwah akan mengalami seperti halnya Nabi Yunus as yang tidak mau berdakwah kepada umatnya.
Kita sudah tahu bahwa tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw. Maka tugas dakwah itu terletak dipundak orang Islam. Jika orang Islam tidak mau dakwah, maka yang akan dakwah adalah umat agama lain atau antek2 Dajjal. Jangan salahkan agama lain yang aktif dakwah dengan menyebarkan kasih sayang. Karena Umat Islam tidak mau dakwah, maka tugas dakwah itu diambil alih oleh umat lain. Padahal Umat Islam sendiri sering mengklaim bahwa Islam agama yang terbaik, tetapi umat Islam tidak mau berdakwah. Kalau ada yang berdakwah, bukannya dibantu malah diusir, diejek, dikatai jorok, kotor ini , itu dll., kalau sudah ada gempa dan musibah lain, sebetulnya Tuhan sedang menegur umat Islam sama ketika Tuhan menegur Nabi Yunus.
Nabi Yunus as lari dari dakwah, maka ia mengakui bahwa ia zalim. Umat Islam yang tidak mau berdakwah berarti juga zalim. Yang menghalang2i dakwah berarti yang paling zalim…
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita….
Rabu, 30 September 2009
lANJUTAN ......DARI ........ WOOWWWWWWW
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 pada 1 Oktober mendatang menjadi perhelatan tiga lembaga, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Ketiga lembaga itu menganggarkan biaya yang jumlahnya luar biasa besar.
Total biaya untuk pelantikan yang hanya akan berlangsung beberapa jam itu mencapai Rp 46,049 miliar. Berikut adalah rincian anggaran yang berasal dari keuangan negara tersebut, bersumber dari Indonesia Budget Centre (IBC):
1. Anggaran KPU: Rp 11 miliar
Angka ini jauh lebih besar dari pelantikan tahun 2004 sebesar Rp 7 miliar, naik sebesar 36 persen. Untuk pelantikan ini, setiap anggota DPR menelan biaya sebesar Rp 15,89 juta.
- Biaya menginap di Hotel Sultan selama 4 hari @Rp4,2 juta x 692 orang =Rp 2,9 miliar
- Sewa kendaraan @Rp 63 juta x 4 hari =Rp 252 juta
- Biaya beli tas @Rp 167.000 x 692 =Rp 115 ,5 juta
- Uang saku @Rp 2 juta x 692 =Rp 1,38 miliar
- Biaya pakaian penjemputan (jas, jaket, batik, hem) = Rp 149 ,9 juta
- Biaya lain-lain Rp 6,22 miliar guna membiayai konsumsi petugas lapangan, biaya transportasi anggota DPR dan DPD.
2. Anggaran DPR/Setjen: Rp 28, 504 miliar
- Perjalanan pindah ke Jakarta @Rp50,35 juta x 560 orang =Rp 28,2 miliar (dana ini dianggap tidak perlu, duplikasi)
- Bantuan logistik untuk petugas Polri selama 3 hari =Rp 138 juta (duplikasi dengan anggaran Polri)
- Biaya protokoler pelantikan = Rp 112 ,5 juta
- Honor rohaniawan = Rp 56,2 juta
3. Anggaran DPD/Setjen = Rp 6, 545 miliar (anggaran ini naik sekitar 17 persen atau Rp 949 juta dari DIPA awal sebesar Rp 5,6 miliar)
- Biaya pembuatan PIN @Rp 9 juta x 132 = Rp 1,2 miliar (dinilai terlalu mahal)
- Biaya orientasi sebelum dilantik @Rp 22,7 juta x 132 orang = Rp 3 miliar (duplikasi dengan orientasi KPU)
- Biaya purnatugas (transport dan akomodasi) @Rp 10,4 juta x 100 anggota =Rp 1,04 miliar
- Biaya pengambilan sumpah/janji @Rp 9,8 juta x 132 anggota = Rp 1,3 miliar
Dengan total anggaran Rp 46, 049 miliar, maka setiap anggota DPR dan DPD rata-rata menghabiskan Rp 66,54 juta.
Koordinator Indonesia Budget Centre (IBC) Arif Nur Alam mengatakan, dari puluhan miliar anggaran tersebut, terdapat beberapa pos yang seharusnya bisa dihemat. Ia mencontohkan, biaya penjemputan dan penginapan bisa dihemat ratusan juta rupiah jika 204 anggota yang berdomisili di Jakarta tak ikut diinapkan di hotel mewah.
"Pelantikan adalah tahap akhir pemilu sehingga alokasi di Setjen DPR dan DPD tidak perlu terlalu besar. Alokasi yang tinggi ini menunjukkan fungsi anggaran tidak baik dan menyakiti hati rakyat," kata Arif di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9).
Menurutnya, pelantikan hanya acara seremonial tanpa pertanggunggugatan atas aset nasional dan aset daerah dari perhelatan yang pernah digelar sebelumnya
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 pada 1 Oktober mendatang menjadi perhelatan tiga lembaga, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Ketiga lembaga itu menganggarkan biaya yang jumlahnya luar biasa besar.
Total biaya untuk pelantikan yang hanya akan berlangsung beberapa jam itu mencapai Rp 46,049 miliar. Berikut adalah rincian anggaran yang berasal dari keuangan negara tersebut, bersumber dari Indonesia Budget Centre (IBC):
1. Anggaran KPU: Rp 11 miliar
Angka ini jauh lebih besar dari pelantikan tahun 2004 sebesar Rp 7 miliar, naik sebesar 36 persen. Untuk pelantikan ini, setiap anggota DPR menelan biaya sebesar Rp 15,89 juta.
- Biaya menginap di Hotel Sultan selama 4 hari @Rp4,2 juta x 692 orang =Rp 2,9 miliar
- Sewa kendaraan @Rp 63 juta x 4 hari =Rp 252 juta
- Biaya beli tas @Rp 167.000 x 692 =Rp 115 ,5 juta
- Uang saku @Rp 2 juta x 692 =Rp 1,38 miliar
- Biaya pakaian penjemputan (jas, jaket, batik, hem) = Rp 149 ,9 juta
- Biaya lain-lain Rp 6,22 miliar guna membiayai konsumsi petugas lapangan, biaya transportasi anggota DPR dan DPD.
2. Anggaran DPR/Setjen: Rp 28, 504 miliar
- Perjalanan pindah ke Jakarta @Rp50,35 juta x 560 orang =Rp 28,2 miliar (dana ini dianggap tidak perlu, duplikasi)
- Bantuan logistik untuk petugas Polri selama 3 hari =Rp 138 juta (duplikasi dengan anggaran Polri)
- Biaya protokoler pelantikan = Rp 112 ,5 juta
- Honor rohaniawan = Rp 56,2 juta
3. Anggaran DPD/Setjen = Rp 6, 545 miliar (anggaran ini naik sekitar 17 persen atau Rp 949 juta dari DIPA awal sebesar Rp 5,6 miliar)
- Biaya pembuatan PIN @Rp 9 juta x 132 = Rp 1,2 miliar (dinilai terlalu mahal)
- Biaya orientasi sebelum dilantik @Rp 22,7 juta x 132 orang = Rp 3 miliar (duplikasi dengan orientasi KPU)
- Biaya purnatugas (transport dan akomodasi) @Rp 10,4 juta x 100 anggota =Rp 1,04 miliar
- Biaya pengambilan sumpah/janji @Rp 9,8 juta x 132 anggota = Rp 1,3 miliar
Dengan total anggaran Rp 46, 049 miliar, maka setiap anggota DPR dan DPD rata-rata menghabiskan Rp 66,54 juta.
Koordinator Indonesia Budget Centre (IBC) Arif Nur Alam mengatakan, dari puluhan miliar anggaran tersebut, terdapat beberapa pos yang seharusnya bisa dihemat. Ia mencontohkan, biaya penjemputan dan penginapan bisa dihemat ratusan juta rupiah jika 204 anggota yang berdomisili di Jakarta tak ikut diinapkan di hotel mewah.
"Pelantikan adalah tahap akhir pemilu sehingga alokasi di Setjen DPR dan DPD tidak perlu terlalu besar. Alokasi yang tinggi ini menunjukkan fungsi anggaran tidak baik dan menyakiti hati rakyat," kata Arif di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9).
Menurutnya, pelantikan hanya acara seremonial tanpa pertanggunggugatan atas aset nasional dan aset daerah dari perhelatan yang pernah digelar sebelumnya
SEBUAH IRONI ......... BAGI YANG PUNYA .... NURANI
Gempa Bumi Padang dan Pelantikan Anggota DPR, Sebuah Ironi?
Oleh danielht
Tanggal 30 September 2009 Indonesia kembali berduka dengan terjadinya gempa dahsyat di Padang, dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat. Dengan skala 7,6 Richter dipastikan bahwa gempa bumi ini mempunyai daya dan efek destruktif yang sangat serius. Sudah dapat dipastikan juga bahwa akan lebih luas dan parah daripada gempa bumi yang barusan terjadi di Jawa Barat. Baik dalam hal korban jiwa, maupun harta-benda (daya rusaknya).
Tanggal 01 Oktober 2009, DPR RI plus DPD mempunyai acara besar, ekstravaganza pelantikan anggotanya periode 2009-2014 dengan biaya maha jumbo, yang jika ditotalkan mencapai: Rp. 46,049 miliar! Sedangkan upacaranya sendiri hanya akan berlangsung selama beberapa jam!
Apakah gempa bumi dahsyat di Padang, Sumatera Barat itu akan mempengaruhi acara pelantikan termewah sepanjang sejarah DPR itu? Anggaran telanjur dibuat, biaya telanjur disalurkan, maka “terpaksa” seremoninya tetap berjalan seperti biasa. Barangkali itu yang akan dijalankan dan dijadikan alasannya. Paling pasti akan ada acara mengheningkan ciptanya sambil memasang mimik sedih. Padahal hati tetap berbunga-bunga: “Aku sekarang menjadi anggota dewan yang terhormat!
Mudah-mudahan tidak demikian halnya. Setidaknya, — meskipun kita semua tentu sangat tidak mengharapkan terjadinya gempa bumi itu, tetapi terjadinya gempa bumi Padang ini, barangkali sekaligus menjadi batu ujian dan bahan indikator untuk melihat perilaku dan reaksi para anggota dewan yang terhormat yang akan mewakili kita semua untuk 5 tahun ke depan ini.
Biaya Rp 46,049 miliar memang luar biasa besarnya. Siapa yang menyangkal? Padahal anggaran Negara dalam keadaan yang serba terbatas. Mungkin belum ada duanya di dunia ini sebuah negara menghabiskan begitu besar anggaran hanya untuk sebuah seremonial pelantikan anggota parlemennya. Negara yang jauh lebih makmur, atau paling makmur pun tidak begini.
Dari perincian besarnya anggaran masing-masing pos, kita bisa melihat betapa tidak masuk akalnya biaya-biaya tersebut. Rincian biayanya dapat dibaca disini :
Dalam suatu acara pelantikan seperti itu, satu hal terpenting dan menjadi intisari dari makna sebuah pelantikan sebenarnya isi sumpah jabatan yang mereka ucapkan bersama. Bahwa mereka sejak pengucapan sumpah itu dilakukan berbeda dengan mereka sebelumnya. Sejak saat itu mereka adalah WAKIL RAKYAT, bukan yang lain! Konsekuensi logisnya mereka wajib benar-benar mengemban, menghayati dan berdedikasi, aspiratiuf dalam tugas dan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongannya. Sayangnya, biasanya justru konsekuensi tidak logislah yang berbicara kelak. Antara lain bagaimana caranya supaya biaya-biaya besar yang telah dikeluarkan selama kampanye caleg itu bisa pulang modal, dan berbalik untung besar?
Kompas, Senin, 28 September 2009: “Dewan Baru Perlu Terobosan,” mengawali tulisannya dengan menulis: “Ekspektasi publik terhadap Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 relatif tinggi dibandingkan dengan DPR periode sebelumnya. Untuk itu, Dewan baru diharapkan membuat terobosan kebijakan agar tidak mengulang kesalahan dan memperbaiki reputasi yang jelek. …”
Dalam jajak pendapat yang dilakukan Kompas, menunjukkan rata-rata tingkat keyakinan publik terhadap anggota DPR baru yang akan dilantik pada 1 Oktober 2009 ini lebih baik daripada DPR yang sekarang.
Pertanyaannya, apakah hal demikian yang akan terjadi?
Tanpa mengecilkan anggota dewan yang pasti akan ada juga yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, saya pesimis bahwa hal tersebut akan terwujud.
Salah satu indikasinya adalah tentang biaya maha jumbo upacara pelantikan itu sendiri. Para anggota dewan yang baru itu kemungkinan malah memang mengharapkan dapat menikmati dan merasa banggannya sebagai bagian dari suatu seremonial yang wah itu. Dilantik menjadi anggota DPR RI dalam sebuah acara dengan anggaran Rp 46,049 miliar! Mungkin mereka akan merasa lebih bangga lagi kalau tahu ternyata di dunia ini hanya DPR RI saja yang bisa begini!
Jangan lupa bahwa virus anggota dewan baru tapi lama, alias yang terpilih kembali, juga siap menjangkit para anggota baru (dari daerah) dan masih “lugu-lugu” itu. Begitu merasa enaknya menjadi anggota “dewan yang terhormat”, seketika lupa akan semua sumpah jabatannya.
Dengan fenomena pembiayaan sebuah acara pelantikan sedemikian fenomenal mempunyai kesan kuat bahwa penyelenggara dan pesertanya sendiri lebih mementingkan suatu kemegahan ketimbang makna hakiki dari sebuah pelantikan jabatan Negara.
Padahal apabila mereka, para anggota dewan yang baru itu benar-benar berkomitmen tinggi, mereka sebenarnya dapat menunjukkan jati dirinya bahwa mereka berbeda dengan DPR sebelumnya yang materialistis, sarat dengan berbagai kasus kriminal, terutama sekali korupsi. Bahkan menjadi salah satu sarang koruptor di samping Kepolisian dan Kejaksaan. Menjadi seolah-olah bangunan DPR (/MPR) yang mirip rumah keong itu menjadi lambang dari perlindungan para koruptor yang lewat kekuasaannya bisa merekayasa dan memperdagangkan jabatannya dalam proses suatu RUU disahkan menjadi UU.
Apabila para anggota dewan yang baru ini benar-benar berjiwa lebih baik daripada pendahulunya sebetulnya mereka dapat berkolabarasi, bersatu untuk melakukan hal-hal yang “memaksa” KPU, Setjen DPR dan DPD untuk memangkas anggaran yang tidak masuk akal itu. Hal-hal tersebut antara lain:
- Membiayai biaya perjalanan sendiri, jadi tidak menerima biaya perjalanan dari penyelenggara, terutama sekali yang tinggal di Jabodetabek.
- Yang tinggal di Jabodetabek, tidak usah ikut-ikutan tinggal di hotel, apalagi ikut-ikutan menerima uang saku.
- Memilih hotel yang lebih murah dan lama menginap lebih singkat . Kalau bisa satu kamar untuk dua orang, bukan satu kamar satu orang.
- Menjahit jasnya sendiri. Minta saja standar modelnya bagaimana, terus jahit sendiri/masing-masing atas biaya sendiri.
- Untuk biaya pindah anggota keluarga, dibayar sendiri. Apalagi yang tingkat ekonominya memang sanggup untuk itu. Atau dengan menggunakan alat transportasi yang murah seperti kereta api (tapi barangkalai akan gengsi, “ keluarga DPR kok pake kereta api?”)
Sebuah ironi terjadi, apabila baru dalam hitungan jam terjadinya gempa bumi dahsyat di Padang, dan daerah lainnya di Sumatera Barat itu, yang sudah tentu akan menyebabkan ratusan sampai ribuan orang kehilangan jiwa, keluarga, kerabat, rumah tinggal, pekerjaan, dan sebagainya, hidup segera berubah menjadi hidup penuh derita. Dalam ketidakpastian. Rakyat dalam kedukaan. Di Senayan sana, para wakilnya malah berpesta dalam seremonial menghabiskan uang rakyat sampai Rp 46 miliar lebih!
Bisakah mengubah format acara pelantikannya menjadi sesederhana mungkin. Selesai secapat mungkin, untuk member kesempatan kepada para anggota dewan baru itu datang langsung ke lokasi bencana untuk member sumbangan moril dan materi kepada korban dan keluarganya?
Relakah mereka menyerahkan sebagian atau bahkan semua uang saku yang baru diperolehnya untuk disumbangkan ke korban gempa bumi di Padang, Sumatera Barat?! Bukankah secara materi semua kebutuhan mereka sebagai pejabat Negara toh sudah pasti terjamin bahkan lebih dari cukup?
Mari kita lihat. ***
Oleh danielht
Tanggal 30 September 2009 Indonesia kembali berduka dengan terjadinya gempa dahsyat di Padang, dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat. Dengan skala 7,6 Richter dipastikan bahwa gempa bumi ini mempunyai daya dan efek destruktif yang sangat serius. Sudah dapat dipastikan juga bahwa akan lebih luas dan parah daripada gempa bumi yang barusan terjadi di Jawa Barat. Baik dalam hal korban jiwa, maupun harta-benda (daya rusaknya).
Tanggal 01 Oktober 2009, DPR RI plus DPD mempunyai acara besar, ekstravaganza pelantikan anggotanya periode 2009-2014 dengan biaya maha jumbo, yang jika ditotalkan mencapai: Rp. 46,049 miliar! Sedangkan upacaranya sendiri hanya akan berlangsung selama beberapa jam!
Apakah gempa bumi dahsyat di Padang, Sumatera Barat itu akan mempengaruhi acara pelantikan termewah sepanjang sejarah DPR itu? Anggaran telanjur dibuat, biaya telanjur disalurkan, maka “terpaksa” seremoninya tetap berjalan seperti biasa. Barangkali itu yang akan dijalankan dan dijadikan alasannya. Paling pasti akan ada acara mengheningkan ciptanya sambil memasang mimik sedih. Padahal hati tetap berbunga-bunga: “Aku sekarang menjadi anggota dewan yang terhormat!
Mudah-mudahan tidak demikian halnya. Setidaknya, — meskipun kita semua tentu sangat tidak mengharapkan terjadinya gempa bumi itu, tetapi terjadinya gempa bumi Padang ini, barangkali sekaligus menjadi batu ujian dan bahan indikator untuk melihat perilaku dan reaksi para anggota dewan yang terhormat yang akan mewakili kita semua untuk 5 tahun ke depan ini.
Biaya Rp 46,049 miliar memang luar biasa besarnya. Siapa yang menyangkal? Padahal anggaran Negara dalam keadaan yang serba terbatas. Mungkin belum ada duanya di dunia ini sebuah negara menghabiskan begitu besar anggaran hanya untuk sebuah seremonial pelantikan anggota parlemennya. Negara yang jauh lebih makmur, atau paling makmur pun tidak begini.
Dari perincian besarnya anggaran masing-masing pos, kita bisa melihat betapa tidak masuk akalnya biaya-biaya tersebut. Rincian biayanya dapat dibaca disini :
Dalam suatu acara pelantikan seperti itu, satu hal terpenting dan menjadi intisari dari makna sebuah pelantikan sebenarnya isi sumpah jabatan yang mereka ucapkan bersama. Bahwa mereka sejak pengucapan sumpah itu dilakukan berbeda dengan mereka sebelumnya. Sejak saat itu mereka adalah WAKIL RAKYAT, bukan yang lain! Konsekuensi logisnya mereka wajib benar-benar mengemban, menghayati dan berdedikasi, aspiratiuf dalam tugas dan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongannya. Sayangnya, biasanya justru konsekuensi tidak logislah yang berbicara kelak. Antara lain bagaimana caranya supaya biaya-biaya besar yang telah dikeluarkan selama kampanye caleg itu bisa pulang modal, dan berbalik untung besar?
Kompas, Senin, 28 September 2009: “Dewan Baru Perlu Terobosan,” mengawali tulisannya dengan menulis: “Ekspektasi publik terhadap Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 relatif tinggi dibandingkan dengan DPR periode sebelumnya. Untuk itu, Dewan baru diharapkan membuat terobosan kebijakan agar tidak mengulang kesalahan dan memperbaiki reputasi yang jelek. …”
Dalam jajak pendapat yang dilakukan Kompas, menunjukkan rata-rata tingkat keyakinan publik terhadap anggota DPR baru yang akan dilantik pada 1 Oktober 2009 ini lebih baik daripada DPR yang sekarang.
Pertanyaannya, apakah hal demikian yang akan terjadi?
Tanpa mengecilkan anggota dewan yang pasti akan ada juga yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, saya pesimis bahwa hal tersebut akan terwujud.
Salah satu indikasinya adalah tentang biaya maha jumbo upacara pelantikan itu sendiri. Para anggota dewan yang baru itu kemungkinan malah memang mengharapkan dapat menikmati dan merasa banggannya sebagai bagian dari suatu seremonial yang wah itu. Dilantik menjadi anggota DPR RI dalam sebuah acara dengan anggaran Rp 46,049 miliar! Mungkin mereka akan merasa lebih bangga lagi kalau tahu ternyata di dunia ini hanya DPR RI saja yang bisa begini!
Jangan lupa bahwa virus anggota dewan baru tapi lama, alias yang terpilih kembali, juga siap menjangkit para anggota baru (dari daerah) dan masih “lugu-lugu” itu. Begitu merasa enaknya menjadi anggota “dewan yang terhormat”, seketika lupa akan semua sumpah jabatannya.
Dengan fenomena pembiayaan sebuah acara pelantikan sedemikian fenomenal mempunyai kesan kuat bahwa penyelenggara dan pesertanya sendiri lebih mementingkan suatu kemegahan ketimbang makna hakiki dari sebuah pelantikan jabatan Negara.
Padahal apabila mereka, para anggota dewan yang baru itu benar-benar berkomitmen tinggi, mereka sebenarnya dapat menunjukkan jati dirinya bahwa mereka berbeda dengan DPR sebelumnya yang materialistis, sarat dengan berbagai kasus kriminal, terutama sekali korupsi. Bahkan menjadi salah satu sarang koruptor di samping Kepolisian dan Kejaksaan. Menjadi seolah-olah bangunan DPR (/MPR) yang mirip rumah keong itu menjadi lambang dari perlindungan para koruptor yang lewat kekuasaannya bisa merekayasa dan memperdagangkan jabatannya dalam proses suatu RUU disahkan menjadi UU.
Apabila para anggota dewan yang baru ini benar-benar berjiwa lebih baik daripada pendahulunya sebetulnya mereka dapat berkolabarasi, bersatu untuk melakukan hal-hal yang “memaksa” KPU, Setjen DPR dan DPD untuk memangkas anggaran yang tidak masuk akal itu. Hal-hal tersebut antara lain:
- Membiayai biaya perjalanan sendiri, jadi tidak menerima biaya perjalanan dari penyelenggara, terutama sekali yang tinggal di Jabodetabek.
- Yang tinggal di Jabodetabek, tidak usah ikut-ikutan tinggal di hotel, apalagi ikut-ikutan menerima uang saku.
- Memilih hotel yang lebih murah dan lama menginap lebih singkat . Kalau bisa satu kamar untuk dua orang, bukan satu kamar satu orang.
- Menjahit jasnya sendiri. Minta saja standar modelnya bagaimana, terus jahit sendiri/masing-masing atas biaya sendiri.
- Untuk biaya pindah anggota keluarga, dibayar sendiri. Apalagi yang tingkat ekonominya memang sanggup untuk itu. Atau dengan menggunakan alat transportasi yang murah seperti kereta api (tapi barangkalai akan gengsi, “ keluarga DPR kok pake kereta api?”)
Sebuah ironi terjadi, apabila baru dalam hitungan jam terjadinya gempa bumi dahsyat di Padang, dan daerah lainnya di Sumatera Barat itu, yang sudah tentu akan menyebabkan ratusan sampai ribuan orang kehilangan jiwa, keluarga, kerabat, rumah tinggal, pekerjaan, dan sebagainya, hidup segera berubah menjadi hidup penuh derita. Dalam ketidakpastian. Rakyat dalam kedukaan. Di Senayan sana, para wakilnya malah berpesta dalam seremonial menghabiskan uang rakyat sampai Rp 46 miliar lebih!
Bisakah mengubah format acara pelantikannya menjadi sesederhana mungkin. Selesai secapat mungkin, untuk member kesempatan kepada para anggota dewan baru itu datang langsung ke lokasi bencana untuk member sumbangan moril dan materi kepada korban dan keluarganya?
Relakah mereka menyerahkan sebagian atau bahkan semua uang saku yang baru diperolehnya untuk disumbangkan ke korban gempa bumi di Padang, Sumatera Barat?! Bukankah secara materi semua kebutuhan mereka sebagai pejabat Negara toh sudah pasti terjamin bahkan lebih dari cukup?
Mari kita lihat. ***
Langganan:
Postingan (Atom)